Young Health Programme

Tantangan Kesehatan Remaja di Indonesia

  • Di Indonesia, ada lebih dari 65 juta anak mudausia antara 10 dan 24 tahun, mewakili sekitar 28% dari populasi. Selama 15 tahun ke depan atau lebih, mereka akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial di Indonesia. Akan sangat mengkhawatirkan jika 65 juta anak muda tersebut tumbuh dengan tidak produktif, negara akan kehilangan kesempatan untuk menikmati generasi emas 2045 seperti yang dicanangkan pemerintah baru – baru ini. Kekhawatiran ini tentu tidak berlebihan karena Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ancaman signifikan NCD dikaitkan dengan perilaku berisiko seperti penggunaan alkohol, penggunaan tembakau, diet yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang tidak baik. Hal ini merupakan relevansi perilaku-perilaku berisiko yang sangat dekat dengan kaum muda di Indonesia.
  • Pada tahun 2010, 41% anak laki-laki berusia 13-15 perokok aktif. Ini menunjukkan bahwa, seperti di banyak negara, merokok sering menjadi kebiasaan yang dikembangkan selama masa remaja. Yang mengkhawatirkan, jumlah anak muda yang mulai merokok semakin meningkat. Penelitian dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa sementara 24,7% dari orang muda berusia 15-19 tahun merokok pada tahun 2001, ini meningkat menjadi 54,8% pada tahun 2016, sementara untuk konsumsi minuman berakohol Data dari Survei Kesehatan Reproduksi Dewasa Muda Indonesia (IYARHS) 2013-14 menunjukkan bahwa pria berusia 15-24 lebih cenderung mengonsumsi alkohol daripada wanita dari kelompok usia yang sama. Sebanyak 34% pria mengonsumsi alkohol pada suatu waktu, sementara persentase yang sangat kecil (2%) minum setiap hari. Seperti merokok, usia merupakan faktor penting dalam penggunaan alkohol awal. Di antara pria yang pernah mengonsumsi alkohol, 13% mulai minum pada usia 14 dan 43% pada usia 16 tahun.
  • Diet yang tidak sehat dan kurangnya latihan fisik yang memadai juga merupakan dua faktor lain yang berkontribusi terhadap penyakit tidak menular, dan keduanya dapat memperumit efek dari faktor risiko lain. Di Indonesia, 30% dari populasi berusia 30 hingga 70 tahun memiliki risiko menengah hingga tinggi meninggal akibat kondisi yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi, dan ini mencerminkan perilaku dan perspektif orang muda terhadap gaya hidup sehat. Studi baru-baru ini menunjukkan kecenderungan mengkhawatirkan dalam peningkatan obesitas di kalangan anak muda di Indonesia - dengan prevalensi meningkat dari 18,8 hingga 26,6 persen selama sepuluh tahun terakhir. Ini mungkin terkait dengan pergeseran pola kerja dan gaya hidup di Indonesia, sejalan dengan perkembangan ekonomi negara dan penduduknya yang semakin urban. Turunnya tingkat kesuburan dan kematian telah menyebabkan populasi yang menua - dengan orang-orang menjadi rentan terhadap penyakit yang berkembang di kemudian hari.
  • Data – data diatas menunjukan, bahwasannya ke 4 faktor yang menjadi indikator munculnya penyakit tidak menular (alkohol, merokok, diet yang tidak sehat dan kurangnya latihan fisik) sangat dekat dan menjadi gaya hidup anak muda di Indonesia, jika ini terus dibiarkan tentu akan membahayakan produktifitas bangsa ini kelak.
  • Sebenarnya pemerintah Indonesia sudah mulai memikirkan dan mengantisipasi hal ini dengan mengamanatkan kepada Departemen Kesehatan Indonesia memulai program khusus untuk kesehatan remaja yang dikenal sebagai Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang dijalankan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas yang dimiliki oleh pemerintah daerah Dinas Kesehatan (Dinkes). PKPR berfokus pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran remaja pada perilaku berisiko NCD dan hak kesehatan seksual dan reproduksi (SRHR) serta mengurangi prevalensi NCD di masa depan. Pada bulan November 2016, pemerintah Indonesia juga meluncurkan Gerakan Gaya Hidup Sehat (Germas), yang bersama dengan PKPR, juga merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kesehatan kaum muda. Germas adalah program nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga negara Indonesia dan memiliki fokus khusus pada NCD. Ini menyoroti komitmen pemerintah untuk mempromosikan gaya hidup sehat untuk membantu mengatasi penyakit seperti hipertensi, masalah jantung, diabetes, gagal ginjal dan kanker. Germas adalah pendekatan nasional yang menyeluruh untuk gaya hidup sehat. Program Germas ini masih dalam tahap awal implementasi, dan ada ruang untuk mendukung pemerintah dan untuk meluncurkannya, mengembangkan rencana, meningkatkan kegiatan, dan membentuk arahnya.
  • Program PKPR dan Germas memiliki sinergi erat dengan program ini, dan menawarkan potensi untuk membangun dan memperkuat layanan yang ada. Memperkuat program pencegahan NCD dapat menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan bagi warga negara Indonesia, dan juga mungkin mengurangi tekanan pada layanan kesehatan - sehingga menurunkan biaya keseluruhan pengobatan NCD.

 

Young Health Programme

Program Kesehatan Remaja (Young Health Programme) dimaksudkan untuk berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesetaraan gender kaum muda usia 10-24 tahun di Indonesia. Program iniakan membangun pembelajaran yang ada dari proyek pencegahan perilaku berisiko dan peningkatan Kesehatan dan Hak Seksual dan Reproduksi (SRHR) dan kesetaraan gender dan bertujuan untuk mempromosikan kehidupan yang sehat bagi kaum muda dengan berfokus pada pencegahan dan pengurangan perilaku berisiko NCD. YHP akan fokus terutama pada pencegahan dan pengurangan penggunaan tembakau, penggunaan alkohol yang berbahaya, aktivitas fisik, diet tidak sehat, kesetaraan gender dan SRHR untuk memberdayakan kaum muda untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tentang kesehatan mereka. Orang muda yang terlibat dalam program ini akan bertindak sebagai agen untuk perubahan dan program juga akan meningkatkan layanan kesehatan yang ramah remaja, dan untuk menciptakan sistem pendukung yang mendukung dan lingkungan kebijakan. Program ini akan melibatkan berbagai strategi termasuk pemberdayaan pemuda melalui pendidikan sebaya, mobilisasi masyarakat, penguatan layanan kesehatan dan advokasi lokal.

Lokasi Pelaksanaan Program

Program ini akan dilaksanakan di Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan dan Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Jagakarsa - Jakarta Selatan

Populasi orang muda usia 15-24 tahun di Jakarta Selatan mencapai 16% atau sekitar 350.000 orang. Kecamatan Jagakarsa merupakan wilayah  dengan penduduk terbanyak dan terluas kedua di Jakarta Selatan. Karena itu, YHP akan melakukan intervensi di Kecamatan Jagakarsa, yang berada di antara kota Jakarta dan kota Depok dimana seringkali hal ini tidak diprioritaskan dalam hal perbaikan kesehatan. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan isu-isu utama untuk kesehatan remaja di Jakarta Selatan meliputi kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi, perokok pemula, seks yang tidak aman. Sedangkan penyakit tidak menular adalah penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, obesitas dan paru.

Masyarakat di kecamatan Jagakarsa dilayani oleh 9 Puskesmas dan 40 Posyandu. Juga tersedia 14 Sekolah Menengah Pertama dan 50 Sekolah Menengah Atas. Kegiatan YHP akan dilakukan di  4 Sekolah Menengah Pertama yaitu SMP PGRI 3 Jakarta, SMPN 211 Jakarta, SMPN 254 Jakarta, SMPN 239 Jakartadan 4 Sekolah Menengah Atas yaitu MAN 7 Jakarta, SMK Al-Hidayah, SMA Yaperajasa , SMA Kharismawita.

Kebijakan yang akan mendukung YHP di Jakarta Selatan adalah Perda Kawasan Tanpa Rokok dan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 244 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaran Reklame rokok dan inovasi kebijakan yang dlakukan untuk mendukung Germas untuk pencegahan penyakit tidak menular dengan melibatkan lembaga di luar institusi kesehatan seperti pengadaan air bersih, perumahan yang layak, pendidikan berlalu lintas, pembatasan konsumsi garam, lemak, gula dan rokok.

  1. Kecamatan Cibinong - Kabupaten  Bogor

Kabupaten Bogor adalah salah satukabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki lokasi yang sangat strategis. Karena Kabupaten Bogor menjadi daerah penyangga Jakarta, sehingga kawasan ini menjadi daerah perkotaan, dengan karakteristik pekerja dan pendatang dari berbagai daerah. Populasi Kabupaten Bogor adalah 5.715.009 orang (2016) yang terdiri dari 2.920.288 laki-laki dan 2.794.721 perempuan. Jumlah penduduk ini tumbuh 4,68 persen dari tahun 2015. Sementara besarnya rasio jenis kelamin pada tahun 2016 penduduk laki-laki adalah 104,49. Cibinong sebagai ibu kota Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk tertinggi. Rasio kelamin  yaitu 209.138 Pria dan 203.118 Wanita dengan total populasi 432.256. Ini merupakan salah satu pertimbangan Cibinong menjadi daerah intervensi YHP.

Saat ini Kecamatan Cibinong  memiliki 11 Puskesmas dan 205 Posyandu yang tersebar di 12 desa, 162 RW, 995 RT. Sedangkan jumlah sekolah terdiri dari 51 Sekolah Menengah Pertama dan 52 Sekolah Menengah Atas. YHP akan diimpelentasikan di 4 Sekolah Menengah Pertama yaitu, SMP Al-Nur, SMP Al-Anshor, SMPN 1 Cibinong, SMP Mahardika. Juga di 5 Sekolah Menengah Atas, yaitu SMK Al-Nur, SMA Al-Asiyah, SMK PGRI Cibinong da SMAN Cibinong.

 

Tujuan Program

Tujuan 1: Remaja memiliki pengetahuan dan kapasitas yang lebih baik untuk membatasi penggunaan tembakau dan perilaku berisiko lainnya serta untuk mempromosikan kesehatan jangka panjang mereka

Tujuan 2: Sekolah, komunitas, orang tua dan guru menciptakan lingkungan yang mendukung yang memfasilitasi perilaku sehat di kalangan anak muda

Tujuan 3: Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) meningkatkan kualitas pelaksanaan PKPR dan Germas yang mendukung kesehatan kaum muda

Tujuan 4: Kebijakan lokal dan nasional ditetapkan, dan alokasi anggaran, untuk memungkinkan Dinas Kesehatan Kesehatan Pemerintah Kota untuk mencegah dan mengurangi perilaku berisiko di kalangan anak muda