Blog

Industri Rokok Sasar Anak Muda Jadi Perokok Baru

Industri Rokok Sasar Anak Muda Jadi Perokok Baru


JAKARTA
- Ketua Lentera Anak Lisda Sundari mengatakan bahaya rokok masih menjadi ancaman bagi anak-anak Indonesia karena mereka merupakan pasar sasaran industri rokok untuk menjadi perokok-perokok baru.

"Iklan rokok yang marak di media-media banyak menampilkan gaya hidup remaja. Industri rokok sengaja membidik anak muda sebagai pasar," katanya, Minggu (23/7/2017).

Lisda mengatakan ancaman rokok harus dianggap sebagai bahaya laten karena dampak yang dirasakan akan muncul dalam waktu lama, sejak seseorang merokok hingga ketagihan dan akhirnya menderita sakit.

Bahaya rokok akan lebih berdampak pada anak-anak karena semakin muda seseorang mulai merokok, maka dia akan semakin mudah untuk ketagihan dan sulit untuk berhenti merokok.

"Anak-anak kita yang saat ini sudah mulai merokok sejak usia 10 tahun akan menjadi generasi yang sakit-sakitan 15 tahun kemudian. Harus ada upaya nyata untuk melindungi anak-anak dari bahaya rokok," tuturnya.

Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014 menunjukkan terdapat 20,3 persen remaja Indonesia berusia 13 hingga 15 tahun yang merokok, sedangkan data Riset Kesehatan Dasar 2014 menyatakan perokok pemula remaja usia 10 hingga 14 tahun pada 10 tahun terakhir naik dua kali lipat dari 9,5 persen pada 2001 menjadi 18 persen pada 2013.

Salah satu yang membuat anak-anak tertarik untuk mulai merokok adalah iklan dan promosi rokok.

Data GYTS 2014 menunjukkan terdapat 60,7 persen anak-anak yang melihat iklan promosi rokok di toko-toko, 62,7 persen anak yang melihat iklan rokok di media, serta 7,9 persen anak-anak yang mengaku pernah ditawari rokok oleh penjual rokok.

Sumber: Netral News

Share this Post:  

Link Terkait: